Hari ini 2 bulan lalu, sejak pukul 2 pagi, saya-ibu edun- baru akan menjalani 7 jam yang penuh struggle, penuh peluh dan darah (litteraly), rasa mulas yang amat sangat menyiksa, berbagai macam sensasi panca indera yang terasa asing dan belum pernah saya rasakan sebelumnya akibat INDUKSI.Suatu proses medis yang tidak bisa saya hindari, karena kontraksi yang masih jauh, sementara ketuban sudah pecah. Pfiuh, hanya berusaha mengingat-ngingat kembali seperti apa rasanya saat ini saja cukup membuat tengkuk berdiri dan saya sangat bersyukur karena telah berhasil melewati fase nan penuh ranjau emosi itu. Rasa mulas perlahan memuncak, elusan dipunggung semakin intens disertai kalimat-kalimat suci Al-Qur’an yang dibisikkan bersautan oleh suami dan ibu mertua memenuhi ruangan putih, kotak dan dingin.
5 jam berlalu, gelombang rasa nyeri kian menerjang. Mata masih saja terpaku pada jam dinding, tidak ada pilihan lain memang. khayalan adanya flat screen tv diruang bersalin nampak berlebihan. Jarum jam terlihat sangat lambat bergerak, ah, apakah baterainya habis?lama sekali.Semua terasa stagnan. saya merasa paling menderita sedunia.Baru pembukaan 8. Bidan yang datang keruangan mengatakan memang mulut rahim bagian bawah sudah terbuka sempurna, sudah berbentuk bulat, tapi bagian atasnya yang belum. “Sabar yah, bu” argh.dan saya hanya membabi buta, mencengkram tangan, kepala suami . Tapi bahkan ditengah deru ngilu tersebut, masih terlintas dibenak saya, kasian banget suami saya yah, pasti linu-linu saya cengkram sedemikian rupa. Jadinya saya mengalihkan target cengkraman ke rangka besi tempat tidur saja. Keputusan salah.karena seminggu sesudahnya, tangan dan daerah belikat saya masih terasa sakit dan ngilu seperti habis ngegym tapi enggak pemanasan.
Jam 8 lewat, kontraksi per 3 menit dan durasi 1 menit.Lilitan nyeri terasa deras dan kontraksi panjang bertubi-tubi. Nikmat ya Allah. Tapi saya mulai kehilangan kesabaran. Mulailah sedik it sedikit ngoceh, “Mah, udah ga tahan” dan ibu mertua saya pun tergopoh-gopoh memanggil bidan, menanyakan kapan saya bisa lahiran, “Kasian anak saya sudah kesakitan”. Bidannya datang, periksa lagi. Baru pembukaan 9. “Bentar lagi yah, bu.Sedikiiiit lagi kok” saat itu, saya hanya ingin kehilangan kesadaran. I wanna pass out, litteraly, supaya bisa terlepas dari sensasi sakit ini.
Mendekati jam 9, hati saya mulai dagdigdug saat saya mendengar suara dokter saya masuk ruangan. Inikah saatnya? “Ayo san, yang kuat yah, susan bisa” ujarnya, tetap ramah seperti biasa.Dan darisana, keadaan mulai terasa surealis, seperti berada tepat di dalam lukisan Salvatore Dali. Ruangan terasa berkabut, padahal saya tidak menangis. Semua mulai kehilangan bentuk, melebur. Bidan-bidan lalulalang,deritan trolley, hempasan tirai, lekatan suara sarung tangan karet yang baru dipakai, dentuman ritmik lagu dangdut koplo lengkap dengan hitungan 2-8 dari instruktur aerobik yang jelas terdengar dari luar; sungguh hiruk pikuk yang absurd.
Bed yang saya tempati sudah berubah format, dan tiba-tiba saja saya sudah dalam posisi siap untuk launching si utun unji yang 38 minggu ini kaya apollo sebelas, dibawa ulang-alik bandung-jakarta-bandung pake kereta. Uh,oh..ada sedikit panik menelusup. Tapi terganti kerinduan yang memuncak. Saya ingin segera bertemu. Dengan mengucap bismillah, pompaan semangat dari suami , nafas yang tersengal,dibantu oksigen karena asma kumat, dan beberapa jahitan yang saya tidak ingin tahu banyaknya, saya bisa spontaneus partus; tanggal 19 Februari 2012,tepat jam 09.07, utun unji dengan tangisannya yang nyaring menjelma bayi lelaki sehat dengan berat 2500gr dan panjang 47 cm. Subhanallah, Alhamdullilah atas anugrah Magis-Mu, ya Allah, telah menambahkan ke-edunan lain; RAKEAN AWALA KALMIZANI aka the rawk ketengah keluarga kecil kami yang sudah edun sebelumnya :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar